KUNINGAN– Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, mengaku bahwa penyelenggaraan Festival Kopi Kuningan melampaui ekspektasi. Tingginya animo peserta dinilai menjadi bukti besarnya potensi kopi Kuningan.

“Ini kali pertama kita gelar ternyata di luar perkiraan. Pesertanya banyak. Kafe-kafe di Kuningan memiliki sejarah kopi terbaik,” ujar Dian saat membuka Festival Coffee Culture Ciremai, di Pandapa Kuningan, Jumat (4/9/2026).

Bupati menilai kopi bukan sekadar komoditas, melainkan masa depan Kabupaten Kuningan. Hanya saja, menurutnya, potensi tersebut belum tergali secara maksimal. 

“Bagi saya, kopi adalah Kuningan masa depan. Ini tinggal bagaimana kita serius. Kalau kita serius ini pasti menghasilkan sesuatu yang di luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dian menjelaskan tujuan utama festival adalah mempertemukan petani, pelaku UMKM, dan dunia usaha. Selama ini harga kopi masih membuat petani hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Tidak ada maksud lain. Potensi yang selama ini belum tergali mudah-mudahan bisa dimaksimalkan dan memberikan kesejahteraan khususnya kepada para petani,” ujarnya

Bupati juga mendorong agar kopi Kuningan tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi menembus pasar ekspor. Untuk itu diperlukan perhatian pada kuantitas, kontinuitas, dan kualitas.

“Daerah selatan, kopi Kuningan tidak hanya menjadi tembus pasar lokal, tapi sebagaian ekspor. Kalau berbicara ekspor berarti berbicara kuantitas, jumlah, ketersediaan, kontinuitas, berbicara kualitas,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, H. Toni Kusumanto, menyebut peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan menjadi momentum kebangkitan para petani kopi dan pelaku usaha kopi di daerah.

“Hari ini adalah momentum kebangkitan para petani kopi dan juga para pelaku usaha kopi. Karena kami melihat bahwa potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Kuningan sangat luar biasa,” ujar Toni.

Menurutnya, tantangan ke depan adalah menata tata kelola dan tata niaga kopi Kuningan agar lebih terstruktur. Menurutnya, Diskopdagperin akan membangun ekosistem dari hulu hingga hilir.

“Kita akan mulai dari produksinya. Para petani harus menjaga kualitas. Dari kualitas tadi, nanti di pengolahan UMKM yang akan bergerak. Termasuk juga kita akan mendorong koperasi untuk bergerak, termasuk juga kita akan dorong dunia usaha,” jelasnya.

Toni menyoroti petani kopi yang saat ini masih bergerak sendiri-sendiri. Ke depan, pihaknya akan merangkul seluruh pelaku agar terintegrasi. 

“Pergerakan saat ini mungkin masih masing-masing, tapi ke depan akan kita rangkul bersama-sama. Dari puzzle-puzzle tadi kita olah untuk menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Diskopdagperin menargetkan adanya komunikasi antar pelaku. “Kalaupun berapa kebutuhannya, kita akan saling berkomunikasi antar para pelaku kopi. Untuk kopi itu ada 50, termasuk dengan kabupaten lain,” ujarnya.

Toni juga menyebut beberapa produk kopi Kuningan sudah diekspor ke luar negeri. Namun ia menekankan pentingnya penataan terlebih dahulu, terutama dalam menjaga kualitas. 

“Yang jelas tadi, kualitas harus sama. Jangan sampai kita ngejar kuantitas tapi kualitas tidak terpenuhi. Itu akan merusak,” tegasnya.

Pemkab Kuningan berharap melalui festival tersebut ekosistem kopi dari hulu ke hilir dapat terbangun, sehingga kesejahteraan petani meningkat dan kopi Kuningan menjadi komoditas unggulan daerah yang berdaya saing.