
KUNINGAN — Perguruan Baroedak Silat Sekolah (PBSS) Pencak Silat Klub Bersatu terus berupaya meningkatkan kualitas pembinaan atlet melalui penguatan kapasitas pelatih. Bagi perguruan yang kini memiliki 23 satuan latihan (satlat) di Kabupaten Kuningan, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari jumlah anggota maupun prestasi yang diraih, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia yang membina para pesilat.
Komitmen itu ditunjukkan langsung oleh Guru Besar PBSS Kuningan, Iyan Irwandi. Di usia 47 tahun, ia kembali mengikuti Penataran dan Sertifikasi Pelatih Daerah Kelas II (Madya) yang diselenggarakan Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Barat di Hotel California, Bandung, pada 22–25 Juli 2026 lalu.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi sebagai pelatih. Sebelumnya, Iyan telah mengantongi lisensi Pelatih Daerah Kelas III (Muda) sejak Maret 2014. Setelah lebih dari satu dekade menjalankan pembinaan, ia memilih kembali mengikuti proses sertifikasi untuk meningkatkan jenjang lisensinya ke tingkat madya.
Pelatihan berlangsung selama empat hari dan diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat. Proses sertifikasi dilakukan secara ketat melalui materi teori, praktik, hingga ujian kompetensi. Dari seluruh peserta, terdapat satu orang yang dinyatakan belum memenuhi standar kompetensi.
Menurut Iyan, pengalaman mengikuti pelatihan tersebut membuka wawasan baru mengenai arah pembinaan olahraga pencak silat yang semakin berbasis ilmu pengetahuan.
“Dari para mentor yang luar biasa, saya menjadi lebih tercerahkan. Ini modal penting untuk mengembangkan potensi atlet di setiap satlat agar ke depan melahirkan pesilat-pesilat andal,” kata Iyan, Sabtu (1/8/2026).
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber nasional, di antaranya Prof. Dr. Mulyana, M.Pd., Dr. Asep Sumpena, S.Pd., M.Pd., Drs. Ferry Hendarsin, M.Pd., serta psikolog olahraga Diana Hasansulama, S.Psi., M.T.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas teknik melatih, tetapi juga pendekatan sport science yang kini menjadi dasar pembinaan atlet modern.
Selain itu juga, para peserta dibekali pemahaman mengenai sistem energi tubuh saat bertanding, prinsip penyusunan program latihan, pengembangan kondisi fisik, hingga penguatan aspek psikologis atlet.
Dalam sesi tersebut, para mentor menekankan bahwa pelatih masa kini dituntut mampu menyusun program latihan secara terukur berdasarkan data, bukan semata mengandalkan pengalaman bertanding.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga menjalani dua kali ujian kompetensi yang menguji kemampuan analisis, penyusunan program latihan, hingga penerapan metode kepelatihan. Suasana pelatihan berlangsung dinamis karena diwarnai diskusi dan pertukaran pengalaman dengan para pelatih dari berbagai daerah, termasuk perwakilan pelatih Tim Garuda dan pelatih asal Jawa Timur.
Bagi Iyan, kesempatan berdialog dengan para pelatih dari luar daerah menjadi nilai tambah yang penting. Ia dapat membandingkan pola pembinaan yang diterapkan di berbagai wilayah sekaligus memperoleh referensi baru untuk diterapkan di lingkungan PBSS Kuningan.
Sepulang dari pelatihan, dia bertekad menerapkan ilmu yang diperoleh kepada para pelatih di 23 satuan latihan PBSS. Menurutnya, peningkatan kualitas pelatih akan berdampak langsung terhadap proses pembinaan atlet sejak usia dini hingga tingkat prestasi.
Iyan juga menyampaikan apresiasi kepada Pengurus IPSI Kabupaten Kuningan yang telah memberikan rekomendasi sehingga dirinya dapat mengikuti sertifikasi tersebut.
“Terima kasih kepada Ketua IPSI Kuningan beserta jajaran yang telah memberi rekomendasi. Ilmu ini penting agar kita tidak tertinggal dari daerah lain yang bergerak makin cepat,” ujarnya.
Melalui peningkatan kompetensi pelatih, PBSS berharap pembinaan pencak silat di Kabupaten Kuningan semakin terarah, mengikuti perkembangan ilmu kepelatihan modern, dan mampu melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional. ***




