
Menariknya, kasus ini mendapat atensi khusus setelah melibatkan warga Kabupaten Kuningan. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, yang merupakan putra daerah Kuningan, berperan aktif mendorong percepatan koordinasi dengan Mabes Polri.
“Begitu ada laporan warga Kuningan jadi korban dan videonya viral, kami langsung bergerak. Koordinasi dengan Bareskrim dan Bupati Kuningan dilakukan secara intensif. Hasilnya, dalam waktu kurang dari sebulan, mereka bisa kita bawa pulang,” kata Andi Gani.
Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, yang turut hadir menjemput warganya di Jakarta, tak kuasa menahan rasa syukur. Didampingi Kapolres Kuningan, AKBP Muhammad Ali Akbar, Dian menyebut kepulangan ini sebagai bentuk kehadiran negara bagi rakyat kecil. Namun, ia juga melontarkan peringatan keras kepada warga lainnya.
“Jangan mudah tergiur. Jangan percaya pada tawaran kerja luar negeri lewat jalur informal atau sponsor yang tidak jelas legalitasnya. Pastikan semua melalui prosedur resmi di Disnakertrans agar keselamatan terjamin,” tegas Dian.
Meski sembilan korban sudah kembali ke pelukan keluarga, Polri memastikan penyelidikan tidak berhenti di sini. Bareskrim kini tengah memetakan jaringan perekrut dan sponsor yang berada di Indonesia. Para pelaku terancam hukuman berat berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO dan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa Kamboja, Laos, dan Myanmar kini menjadi segitiga maut bagi para pencari kerja Indonesia yang minim literasi migrasi aman. Kemiskinan di daerah kerap dimanfaatkan oleh sindikat internasional untuk mengisi slot-slot pekerja di industri judi gelap dan online scamming.
Seorang warga Kuningan yang selamat mungkin kini bisa kembali tidur di rumahnya sendiri. Namun, bagi ribuan WNI lainnya yang diduga masih terjebak di kamp-kamp rahasia di Asia Tenggara, perjuangan baru saja dimulai. Negara memang telah hadir untuk sembilan orang ini, tapi sistem pencegahan di tingkat desa hingga bandara masih butuh perbaikan total agar tidak ada lagi “budak modern” yang dikirim ke negeri orang atas nama mencari nafkah. (red/icu)
