Ketiga, dan yang paling menantang, adalah Digitalisasi Nilai Leluhur. Filosofi Sunda seperti silih asah, silih asuh, silih asih dikemas ulang ke dalam format podcast dan video pendek agar mampu “bersaing” di linimasa generasi Z.
Jembatan Antara Rakyat dan Kekuasaan
Sebagai wakil masyarakat di Dewan Pengawas, peran Elit tak sebatas menjaga konten. Ia memosisikan diri sebagai kurator sekaligus kritikus kebijakan publik. Ia sering turun ke lapangan, menyerap keresahan warga, dan membawanya ke meja direksi agar LPPL tetap menjadi ruang dialog yang jujur, bukan sekadar corong pemerintah.
“Media publik harus menjadi ruang dialog yang jujur. Pemerintah dan masyarakat harus bisa saling mendengar,” tegasnya.
Baginya, pembangunan daerah tidak boleh hanya berbicara tentang aspal jalan atau beton gedung. Jika budaya runtuh, maka arah pembangunan akan kehilangan kompas moralnya.
Menjaga Hati di Era Konvergensi
Menatap masa depan, Indung Kuring terus memacu LPPL Kuningan untuk bertransformasi menjadi media multiplatform. Ia bermimpi sejarah daerah, aroma kuliner hucap, hingga eksotika lereng Ciremai dapat dinikmati masyarakat dunia melalui konten kreatif yang estetik namun tetap memiliki ruh.
Meski teknologi terus melesat menuju konvergensi, satu hal yang tak boleh berubah bagi Elit adalah jatidiri. “Kita boleh maju secara teknologi, tapi urusan hati jangan sampai hilang. Kita harus tetap punya Indung yang mengingatkan pada asal-usul,” tuturnya menutup pembicaraan.
Dari balik mikrofon radio lokal, Elit Nurlitasari terus bersuara. Ia membuktikan bahwa di tengah gempuran digital yang dingin, Kuningan masih memiliki “Indung” yang tetap hangat menjaga api kebudayaan agar tidak padam ditiup angin zaman. (ali)
