Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Ekonomi

PDAU Pangkas Jalur Distribusi Sayuran Kuningan

Direktur PDAU Kuningan, Adang Kurniawan

KUNINGAN – Upaya membenahi persoalan klasik distribusi hasil pertanian di Kabupaten Kuningan mulai dilakukan secara serius. Perumda Aneka Usaha (PDAU) Kuningan mengambil peran strategis untuk memperpendek rantai distribusi sayuran lokal, yang selama ini dinilai menjadi penyebab tingginya harga di tingkat konsumen.

‎Selama bertahun-tahun, masyarakat Kuningan menghadapi ironi. Di tengah melimpahnya produksi sayuran dari lereng Gunung Ciremai, harga di pasar justru kerap lebih mahal, bahkan tidak jarang warga harus membeli hingga ke wilayah Cirebon untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

‎Direktur PDAU Kuningan, Adang Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena rantai distribusi yang panjang dan dikuasai oleh pihak tertentu, sehingga petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga.

‎“Petani kita menanam, tapi tidak mengendalikan harga. Mereka sering dihadapkan pada pilihan sulit, menjual murah ke tengkulak atau membiarkan hasil panen membusuk. Sementara nilai tambah justru dinikmati pihak lain, bahkan keluar daerah,” ujarnya, Minggu, (19/4/2026).

‎Menurutnya, persoalan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan mendorong langkah konkret melalui Surat Edaran Bupati yang mengajak berbagai pihak untuk memprioritaskan penggunaan produk pangan lokal.

‎Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukanlah aturan yang memaksa, melainkan imbauan untuk membangun kekuatan ekonomi daerah secara bersama-sama.

‎“Ada cita-cita besar di balik ini, yaitu memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memastikan peran BUMD benar-benar berpihak kepada warga Kuningan,” katanya.

‎Dalam implementasinya, PDAU berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar. Sejumlah sektor seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), rumah sakit, Puskesmas, hotel, restoran, hingga usaha katering didorong untuk menggunakan bahan pangan lokal yang disuplai secara lebih terstruktur.

‎Kerja sama tersebut dilakukan secara fleksibel, baik langsung maupun melalui pola kemitraan, dengan tetap memperhatikan kualitas, harga, dan ketersediaan pasokan.

‎Meski begitu, pihaknya mengakui bahwa proses tersebut masih berada pada tahap awal. Beberapa tantangan, kata dia, seperti stabilitas stok, harga yang belum sepenuhnya kompetitif, serta kebutuhan pasokan dari luar daerah dalam kondisi tertentu masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.

‎“Ini fase perintisan. Kami terus berbenah dan terbuka terhadap masukan. Prinsip kami tetap menjaga persaingan usaha yang sehat,” tambahnya.

‎Menurut Adang, langkah tersebut mulai dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha. Bahkan, Ia menyebut keberadaan Perumda AU dapat membantu dalam menjaga kontinuitas pasokan bahan pangan lokal oleh salah satu manajer hotel di Kabupaten Kuningan.

‎Ke depan, pihaknya menargetkan terbentuknya sistem distribusi yang lebih efisien dan berkeadilan. Dengan rantai pasok yang lebih pendek, diharapkan petani memperoleh harga yang layak, konsumen mendapatkan harga yang wajar, dan nilai ekonomi dapat berputar di dalam daerah.

‎“Kalau itu tercapai, maka Kuningan tidak hanya menjadi penghasil, tetapi juga menjadi tuan rumah bagi hasil pertaniannya sendiri,” tutupnya.

Baca Juga :  PDAU Tidak Dibubarkan, Ketua SADIS Marah ke Bupati Kuningan

Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi