Tanpa banyak bicara, para petugas ini langsung melakukan pemetaan. Mereka melihat arus air dan posisi ponsel agar tidak hanyut lebih jauh ke gorong-gorong yang lebih dalam. Dengan menggunakan alat khusus dan teknik evakuasi presisi, hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi tim Damkar Kuningan ini untuk mengangkat perangkat basah tersebut dari dasar selokan.
Bagi Miftah, kepulangan ponselnya adalah mukjizat kecil di akhir tahun. Namun lebih dari itu, ia mengaku tertegun dengan kecepatan respons petugas. “Saya sempat ragu mau lapor, apa iya Damkar mau urus HP jatuh? Ternyata mereka langsung datang. Ini benar-benar sangat membantu,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Aksi penyelamatan di Jalan Mohammad Hatta ini kembali menegaskan transformasi peran Pemadam Kebakaran Kuningan. Mereka telah berevolusi menjadi garda terdepan “penolong segala urusan”. Di bawah naungan regulasi daerah tentang ketertiban umum, Damkar kini menjadi tumpuan warga untuk urusan-urusan mulai dari pelepasan cincin yang mencekik jari, evakuasi sarang tawon, hingga penyelamatan barang berharga di tempat sulit.
Di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun yang biasanya diisi dengan agenda-agenda besar pemerintah, aksi penyelamatan ponsel ini menghadirkan wajah birokrasi yang sangat manusiawi. Ia membuktikan bahwa kehadiran negara tidak melulu soal kebijakan makro atau infrastruktur miliaran rupiah, tapi juga soal hadirnya tiga orang petugas berseragam yang mau berlutut di pinggir selokan demi menyelamatkan harapan seorang warganya.
Ponsel Miftah mungkin perlu dikeringkan, namun kepercayaan publik terhadap dedikasi petugas Damkar Kuningan justru sedang mekar-mekarnya. (ali)
