Namun di balik semangat pelestarian itu, muncul sejumlah keluhan dari para guru terkait keberlanjutan pembelajaran angklung di sekolah.
Banyak guru mengaku kesulitan mencari pelatih yang mampu mengajarkan teknik memainkan angklung kepada peserta didik. Akibatnya, beberapa sekolah hanya mampu menampilkan angklung sebagai pajangan tanpa kegiatan pembinaan yang berkelanjutan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kuningan, Rio Anto Permana Saputra, melalui Subkor Bidang Kebudayaan, Rusim Puadi, menyampaikan bahwa pihaknya siap memfasilitasi sekolah yang membutuhkan bantuan pelatih.
“Itu kembali lagi ke sekolah. Kalau memang sekolah membutuhkan instruktur atau pelatih, kami siap membantu memberikan rekomendasi yang cocok untuk pengembangan kompetensi angklung,” ujar Rusim Puadi, Selasa, (14/10).
Rusim menambahkan, Disdikbud berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan seni dan budaya di lingkungan pendidikan agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya.
“Angklung bukan sekadar alat musik, tapi simbol kebersamaan, harmoni, dan identitas budaya Kuningan yang harus kita jaga bersama,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan, Disdikbud Kuningan juga siap mengadakan berbagai kegiatan dan event yang dapat menjadi pemantik semangat pelestarian angklung di kalangan pelajar.
”Kami siap, jika kompetensi dari seluruh siswa sudah menguasai angklung. Biasanya di event tingkat kecamatan atau sekolah, harusnya ada penampilan angklung,” pungkasnya. (Icu)
previous post
Related posts
- Comments
- Facebook comments
