Sementara, Dian Rachmat Yanuar tampaknya memiliki visi lebih jauh. Ia tidak ingin hasil lele dan telur dari desa-desa di Cimahi ini kebingungan mencari pasar. Ia mendorong agar produksi lokal ini diserap oleh program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menjadi prioritas pusat.
“Kuningan harus bangkit dari sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Jika lele dan telurnya sudah diproduksi di desa, maka program makan bergizi harus menyerap hasil dari sini. Ini yang namanya nilai tambah ekonomi desa,” ujar Dian disambut tepuk tangan warga.
Bupati juga mengakui bahwa hambatan utama ekonomi di wilayah timur tetaplah infrastruktur. Ia pun menjanjikan perbaikan jalan di Cimahi dan sekitarnya akan terus dilanjutkan untuk memperlancar distribusi hasil pangan warga ke pusat kota maupun luar daerah.
Bagi warga Cimulya, bantuan ini adalah harapan baru di penghujung tahun. Kepala Desa Cimulya, Gilar, menyebut bantuan kolam lele dan ayam petelur ini sebagai suntikan semangat. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada mindset Masyarakat apakah bantuan ini akan menjadi usaha berkelanjutan, atau sekadar proyek seremonial yang hilang setelah Bupati meninggalkan lokasi.
Di akhir tahun 2025 ini, Pemkab Kuningan tampaknya sedang bertaruh bahwa kemiskinan hanya bisa dikalahkan jika masyarakat berhenti dianggap sebagai objek bantuan, dan mulai diposisikan sebagai subjek ekonomi yang berdaulat. (ali)
