“Kalau hujan pasti bocor, air harus ditadah sama panci, baskom dan barang lainnya. Kalau hujannya malam hari, kami engga bisa tidur, takutnya banjir,” ujarnya.
Meski sakit parah dan memiliki BPJS, Rusma sudah lama tidak melakukan pemeriksaan medis. Harapan hidup dan kesehatannya hanya ia gantungkan pada cahaya matahari yang masuk melalui atap rumah yang bolong. Ia dan anaknya memilih tidak berobat karena keterbatasan biaya untuk ke dokter atau layanan kesehatan terdekat.
”Kalau kontrol kan harus pakai mobil, terus belum lagi obat yang harus dibayar,” tambah Ikah.
Kondisi itu mendapat perhatian khusus dari warga dan tokoh masyarakat setempat. Atang, salah satunya, menerangkan bahwa pihaknya sudah berupaya maksimal supaya kondisi rumah Rusma bisa segera diperbaiki dan kesehatannya juga bisa pulih. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak kelurahan, dinas, bahkan Bupati Kuningan, tetapi hasilnya masih nihil.
”Kami sudah bantu usulkan Rutilahu,” ujar Ketua Forum Masyarakat Kuningan itu.
Karena kondisi warganya sangat memprihatinkan, Atang meminta supaya pemerintah segera membantu keluarga Rusma, baik rumah maupun pemulihan kesehatannya. Tidak hanya itu, pihaknya juga berharap supaya, Rusma bisa mendapatkan bantuan sosial baik dari pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah daerah.
”Kami sudah koordinasi dengan Ketua RW. Sambil menunggu bantuan, kami juga berinisiatif untuk membantu dari swadaya masyarakat,” tuturnya. (Icu)
