Namun, digitalisasi bagi pedagang kecil bukan perkara mudah. Selain kendala literasi teknologi, persaingan di aplikasi daring jauh lebih kejam bagi mereka yang selama puluhan tahun terbiasa mengandalkan pembeli yang datang secara spontan di pinggir jalan.
Sementara itu, Bupati Dian Rachmat Yanuar tidak menampik adanya keluhan terkait anjloknya pendapatan pedagang sejak dipindahkan dari trotoar jalan utama Siliwangi. Namun, ia tetap bersikukuh pada kebijakan relokasi. Baginya, menyingkirkan PKL dari jantung kota adalah langkah untuk “memanusiakan” pedagang dengan memberikan tempat yang lebih layak, sekaligus menjaga estetika Kuningan.
“PKL jangan selalu dipandang negatif. Mereka adalah penyedia lapangan kerja mandiri. Tapi, pusat kota adalah etalase Kuningan yang harus kita jaga bersama kerapiannya,” ujar Dian.
Untuk memancing keramaian, Dian meminta jajaran SKPD agar tidak hanya terpaku pada acara-acara besar yang mahal. Ia menyarankan agar Taman Kota rutin diisi dengan kegiatan sederhana namun menarik massa, seperti lomba mewarnai anak-anak, pembacaan puisi, atau pertunjukan seni sekolah. “Kegiatan kecil tapi rutin bisa mengundang orang datang dan akhirnya mereka jajan di kawasan Puspa,” tuturnya.
Meski dana stimulan telah dicairkan, tantangan besar tetap menganga bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan di tahun 2026. Penataan PKL seringkali menjadi simalakama, di satu sisi menertibkan estetika kota, di sisi lain berisiko melumpuhkan ekonomi kerakyatan jika tidak dibarengi dengan strategi aktivasi kawasan yang mumpuni.
Dana 300 ribu rupiah yang diberikan memang menjadi simbol kehadiran negara, namun bagi para pedagang yang omzetnya merosot tajam, bantuan itu hanyalah penunda lapar sementara. Di penghujung tahun ini, ujian bagi Bupati Dian adalah membuktikan bahwa kawasan Puspa bukan hanya proyek penataan administratif yang “bersih tapi sepi”, melainkan benar-benar ekosistem ekonomi yang lestari.
Konsistensi Satpol PP dan Dinas Perhubungan dalam menjaga ketertiban juga menjadi taruhan. Tanpa pengawasan yang ketat di jalanan lama, bukan tidak mungkin para pedagang yang frustrasi akan kembali menyerbu trotoar demi menyambung hidup, mengembalikan wajah Kuningan ke titik nol penataan yang semrawut. (ali)
