
KUNINGAN – Krisis pasokan air menjadi persoalan utama yang menghambat pengembangan Villa Qur’an Yatim Seribu Pulau di Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya.
Keterbatasan kebutuhan dasar tersebut bahkan membuat lembaga pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa itu belum dapat menambah jumlah santri, meski minat masyarakat terus meningkat.
Kondisi itu mengemuka saat Anggota Komisi XII DPR RI, H. Rokhmat Ardiyan (HRA) menggelar penyerapan aspirasi masyarakat yang didampingi oleh Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriyani.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Villa Qur’an, Jum’at, (31/7/2026). Keduanya mendengar langsung keluhan pengelola terkait kebutuhan air yang belum dapat dipenuhi secara mandiri.
Pendiri sekaligus Pimpinan Villa Qur’an, Ade Muhammad Syafaat, menjelaskan bahwa lembaga yang awalnya diperuntukkan bagi anak-anak yatim itu kini menampung santri dari berbagai daerah, termasuk putra daerah Kabupaten Kuningan.
Seluruh santri yatim, kata dia, dibebaskan dari biaya pendidikan, begitu pula santri dhuafa yang mengalami keterbatasan ekonomi. Namun, perkembangan lembaga tersebut justru terkendala persoalan dasar, yakni ketersediaan air.
”Saat ini santri yang terdaftar ada 15 orang. Kendala terbesar kami adalah masalah air. Sampai sekarang kami masih bergantung pada aliran air dari kawasan wisata Cilengkrang. Belum memiliki sumber air sendiri,” ujar Ade.
Menurutnya, kebutuhan air sangat vital karena digunakan untuk keperluan ibadah, mandi, memasak hingga aktivitas harian para santri. Keterbatasan pasokan tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa jumlah santri belum bisa ditambah.
Selain mengelola pendidikan pesantren, Villa Qur’an juga memiliki program Mondok Sabtu Ahad (Monsahat) yang ditujukan bagi siswa sekolah dasar. Program tersebut mengajak anak-anak kelas 4 hingga kelas 6 merasakan kehidupan pesantren setiap akhir pekan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
Melihat kondisi tersebut, H. Rokhmat Ardiyan memastikan akan membantu mencarikan solusi agar persoalan air bersih dapat segera teratasi.
”Insya Allah nanti akan saya bantu. Air di sini dibutuhkan untuk wudu, mandi, hingga memasak. Air adalah sumber kehidupan, sehingga persoalan ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia mengatakan akan menerjunkan tim untuk menelusuri penyebab utama minimnya pasokan air, apakah berasal dari jaringan distribusi, instalasi pipa, atau sumber mata air yang membutuhkan penanganan teknis.
”Nanti kita cek bersama tim, apakah masalahnya ada di selang, sumber mata air, atau persoalan teknis lainnya. Yang jelas kita cari solusinya bersama,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap dedikasi Villa Qur’an dalam membina anak-anak yatim dan dhuafa. Menurutnya, lembaga tersebut telah melahirkan puluhan alumni yang kini melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan.
”Saya sangat mengapresiasi Villa Qur’an ini. Alumninya sudah lebih dari 70 orang dan banyak yang kini kuliah. Pak Kiai Ade memiliki kepedulian luar biasa terhadap anak-anak yang membutuhkan. Karena itu, kita semua harus ikut membantu,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriyani, menilai keberadaan Villa Qur’an menjadi aset sosial sekaligus pendidikan yang perlu mendapat dukungan pemerintah.
Ia mengapresiasi program Monsahat yang dinilai mampu membangun karakter anak sekaligus menjadi alternatif positif di tengah maraknya penggunaan gawai pada usia dini.
”Program ini sangat positif. Anak-anak belajar Al-Qur’an sekaligus merasakan kehidupan di pesantren. Ini menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memberikan pendidikan keagamaan kepada anak-anaknya,” ujar Tuti.
Meski demikian, ia mengakui persoalan air menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani.
”Kendalanya memang kekurangan air. Nanti akan kami sampaikan juga kepada PDAM agar dapat memberikan dukungan terhadap keberadaan Villa Qur’an ini,” katanya.
Suasana kegiatan pun berlangsung haru. Tuti mengaku sempat menitikkan air mata ketika bertemu para santri yatim yang mendapatkan kasih sayang dan pendidikan di Villa Qur’an.
”Bertemu anak-anak yang kurang beruntung, lalu melihat mereka dirangkul dan dibimbing di sini, tentu sangat menyentuh hati. Mereka tetap mendapatkan kasih sayang dan kesempatan belajar dengan baik,” tuturnya.




