
KUNINGAN – Universitas Islam Al-Ihya Kuningan terus mematangkan diri dalam mewujudkan kampus yang ramah disabilitas. Tidak cukup dengan membuka akses pendidikan, tetapi juga memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan belajar yang setara, dukungan yang tepat, dan ruang untuk mengembangkan potensi diri.
Penguatan itu dilakukan oleh unit khsusu di Unisa Kuningan, yakni Unit Layanan Disabilitas (ULD) dengan menggelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Dosen dan Tenaga Kependidikan. Satu hal yang diperkuat yaitu Pemanfaatan Media dan Teknologi Asistif untuk Pembelajaran Inklusif, Senin, (19/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah strategis UNISA Kuningan untuk memperkuat kompetensi sivitas akademika dalam menghadirkan pembelajaran yang inklusif, aksesibel, dan responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
Melalui pelatihan itu, kampus mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan inklusif bukan sekedar kebijakan atau program kelembagaan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh unsur perguruan tinggi.
Rektor Unisa Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, menegaskan komitmen universitas untuk terus membangun lingkungan pendidikan tinggi yang terbuka, inklusif, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.
“Setiap mahasiswa memiliki hak untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan meraih prestasi tanpa terhalang oleh kondisi disabilitas yang dimiliki,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata dia, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa proses pembelajaran dan pelayanan akademik mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa secara tepat.
Komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan, baik dalam memahami karakteristik serta kebutuhan mahasiswa maupun dalam memanfaatkan media dan teknologi. Dengan dukungan yang sesuai, hambatan dalam mengakses materi perkuliahan dan berpartisipasi dalam kegiatan akademik dapat diminimalkan.
Sementara itu, Ketua ULD UNISA Kuningan, Dr. Nur Rohmatillah, mengungkapkan bahwa UNISA Kuningan saat ini memiliki 21 mahasiswa penyandang disabilitas dengan beragam jenis ketunaan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki kebutuhan dan pengalaman belajar yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan layanan yang tepat.
“Peran ULD tidak sebatas menyediakan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi juga membangun ekosistem kampus yang mampu memahami, menerima, dan memfasilitasi keberagaman,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, menurutnya, keterlibatan seluruh unsur perguruan tinggi sangat diperlukan agar layanan inklusif dapat diterapkan secara konsisten, baik dalam pembelajaran maupun pelayanan akademik.
Untuk memperkaya wawasan dan pengalaman peserta, pelatihan itu menghadirkan dua narasumber dari SLBN Taruna Mandiri, yaitu Marlinda Ratnasari Sukandi, dan Kokoy Kurnaeti. Keduanya berbagi pengalaman serta praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, khususnya dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.
Melalui pemaparan materi dan diskusi, peserta diajak memahami bahwa pembelajaran inklusif membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Diperlukan pemahaman yang tepat, strategi pembelajaran yang adaptif, serta pemanfaatan media dan teknologi asistif yang dapat membantu peserta didik maupun mahasiswa mengikuti proses pembelajaran secara lebih mandiri dan optimal.
Salah satu pengalaman yang memberikan inspirasi dalam kegiatan tersebut adalah kisah, Kokoy Kurnaeti, seorang kepala sekolah dengan hambatan penglihatan yang mampu menunjukkan kapasitas kepemimpinan, dedikasi, dan prestasi di bidang pendidikan.
Pengalaman beliau menjadi refleksi bahwa disabilitas bukanlah ukuran kemampuan seseorang untuk berkarya, memimpin, dan memberikan kontribusi nyata. Dengan kesempatan yang setara, dukungan yang tepat, dan lingkungan yang inklusif, setiap individu memiliki peluang untuk mengembangkan potensi serta mencapai prestasi.
Kisah tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa pendidikan inklusif perlu dibangun di atas perspektif yang menghargai potensi individu, bukan semata-mata berfokus pada keterbatasan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap mahasiswa berpartisipasi, berkembang, dan menunjukkan kemampuannya.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pemanfaatan media dan teknologi menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi hambatan belajar yang dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas. Teknologi yang sesuai dapat membantu mahasiswa mengakses materi perkuliahan, memahami informasi, berkomunikasi, serta mengikuti aktivitas akademik secara lebih mandiri.
Namun, keberhasilan penerapannya tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat atau aplikasi. Dosen dan tenaga kependidikan juga perlu memahami cara penggunaannya serta menyesuaikan metode pembelajaran dan layanan akademik dengan kebutuhan mahasiswa.***




