Kesadaran terhadap kemahahadiran Allah Swt ini penting diupgrade dan diperkuat karena akan berpengaruh besar pada konsistensi tindakan atau laku setiap orang. Di setiap kondisi apapun, ketika kesadaran bahwa Allah hadir dan senantiasa melihat, setiap individu akan terjaga. Ia akan terus berbuat baik tanpa kecuali. Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk berprilaku buruk apalagi keji. Begitulah Nabi, ketika dilempar batu atau diludahi, beliau justru menjadi orang pertama yang menjenguk setiap yang memusuhinya. Beliau juga tidak berhenti menyuapi kakek tua yang tanpa henti menghinanya.
Di dalam sejarahnya juga, Nabi senantiasa melawan segala bentuk perampasan hak-hak asasi setiap orang di sekitarnya. Beliau berjuang sepenuh hati dan penuh keberanian. Harta dan nyawanya dijadikan jaminan untuk menolak perbudakan dan perampasan hak hidup perempuan, simbol orang tak punya nilai, di mata kelompok orang-orang jahiliyah.
Nabi juga menggeser, bahkan mengganti, orientasi hidup jahiliyah yang semula memuja kegagahan, kemewahan, spirit primordial, dan tujuan jangka pendek, menjadi visi jauh ke depan dengan mengedepankan kemuliaan akhlak. Dan, yang tidak kalah pentingnya lagi, Nabi tidak sekedar melawan dan mengubah, tetapi menjadi pelaku ideal sebagai sosok yang wajib dicontoh. Beliau rendah hati, ramah, hidup sederhana, inklusif, dan berpikir jangka panjang untuk kebaikan saat itu dan hari akhir. Tidak hanya untuk pengikutnya, tetapi seluruh umat manusia. Beliau membawa misi rahmatan lil alamin.
Syahdan, Isra Mi’raj merupakan puncak dari proses panjang kehidupan yang dilandasi ketaatan penuh atas segala perintah dan larangan-Nya. Sebuah konsistensi ketaatan. Peringatannya bukan sebatas ketakjuban atas perjalanan singkat di suatu malam yang tidak ada tandingnya, melainkan bagaimana menjalani proses hidup yang konsisten dan terus lebih baik. Perjalanan yang lurus kemudian terbang vertikal menuju realitas yang lebih tinggi, menuju puncak pencerahan. Seperti kata, Salahudin (2017), menuju sidrah yang artinya pohon simbol pencerahan akal budi, dan muntaha yang berarti puncak. Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Sopandi / Ceng Pandi
Dosen UNISA Kuningan / Redaktur Cikalpedia.id.
