KUNINGAN – Menjelang tutup buku tahun 2025, suasana di sejumlah kantor pemerintahan Kabupaten Kuningan terasa menggantung. Bukan karena target kinerja yang belum rampung, melainkan karena satu hal yang sejak berbulan-bulan lalu terus menjadi bisik-bisik di lorong birokrasi yaitu mutasi aparatur sipil negara.
Isu pergeseran jabatan, mulai dari eselon II, III hingga IV, telah lama beredar. Bahkan, kabar yang berkembang menyebutkan mutasi akan diawali dari eselon III dengan jumlah mencapai sekitar 200 orang ASN. Informasi itu menyebar cepat. Namun hingga Senin, (29/12/2025), kabar tersebut belum berwujud apa pun selain penantian.
Tak ada surat resmi. Tak ada jadwal pasti. Bahkan tanda-tanda pelaksanaan pun belum terlihat, meski kalender telah berada di hari-hari terakhir tahun ini.
“Kalau memang jadi, harusnya sudah ada pergerakan,” ujar seorang ASN enggan disebutkan namanya. Ia mengaku telah lama bersiap menghadapi kemungkinan dipindahkan, namun ketidakjelasan waktu justru membuat beban psikologis semakin berat. “Menunggu tanpa kepastian itu lebih melelahkan,” katanya.
Situasi serupa dirasakan ASN lainnya. Bagi mereka, mutasi bukan hanya rotasi jabatan, melainkan berkaitan langsung dengan kesinambungan kerja, penyesuaian keluarga, hingga perencanaan karier. Namun semua itu kini seolah tertahan oleh satu kata yakni proses.
Ketika dikonfirmasi, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kuningan belum dapat memberikan kepastian waktu. Kepala BKPSDM Kuningan, Beni Prihayatno, menyebutkan bahwa seluruh tahapan mutasi masih berada dalam proses administrasi yang belum rampung.
“Masih proses,” kata Beni singkat saat dikonfirmasi.
