KUNINGAN — Malam yang tenang di Dusun Pahing, Desa Cipancur, mendadak berubah menjadi mencekam ketika lidah api menjilat langit Kecamatan Ciawigebang, Rabu malam, (14/1/2026). Sebuah gudang penyimpanan plastik milik H. Wastam ludes tak bersisa, menyisakan puing-puing hitam dan aroma sangit polimer yang menyengat. Dalam hitungan jam, aset senilai lebih dari setengah miliar rupiah menguap menjadi abu.
Petaka itu bermula dari jeda waktu yang sangat singkat. Sekitar pukul 20.40 WIB, aktivitas di gudang tersebut melandai. Abdul Ajid, seorang pegawai gudang, bersama dua rekannya, Syaiful dan Didin, memutuskan keluar sejenak untuk mencari makan. Mereka menggembok pintu, tanpa menyadari bahwa di balik dinding beton seluas 120 meter persegi itu, maut sedang mengintai dalam bentuk percikan arus pendek.
Hanya berselang sepuluh menit setelah gerbang dikunci, maut itu menampakkan wujudnya. “Saat kami kembali, api sudah membubung tinggi. Semuanya terjadi begitu cepat,” ujar Abdul Ajid dengan nada getir saat memberikan keterangan kepada petugas.
Plastik, material yang secara kimiawi merupakan bahan bakar padat yang sempurna membuat api tak butuh waktu lama untuk menguasai seluruh ruangan.
Warga sekitar sempat berjibaku dengan peralatan seadanya. Namun, menyiram air menggunakan ember ke arah tumpukan plastik yang membara ibarat mencoba memadamkan api neraka dengan segelas air. Api justru semakin beringas, memicu kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan dada.
Laporan baru mendarat di meja UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan tepat pukul 21.00 WIB. Lima menit kemudian, Regu 3 yang berkekuatan sepuluh personel meluncur membelah malam. Dua unit kendaraan pancar dikerahkan, disokong satu unit water supply dari BPBD Kuningan.
