“Tradisi lolos harus dijaga. Sekarang saatnya bicara medali,” kata Iman Nuryaman, menegaskan ambisi yang lebih besar.
Baginya, lolosnya tim 3×3 bukanlah tujuan akhir melainkan sebuah pintu masuk dan platform menuju target yang jauh lebih berani dan substantif di perhelatan Porprov mendatang.
Semangat yang sama juga terpancar dari manajer tim, Dani Iskandar, S.E., yang berperan sebagai penyokong teknis dan moral tim. Di bangku pelatih, duet Irwan ‘Qwonk’ dan Ferry ‘Gvenk’ diyakini menjadi motor sukses di lapangan. Keduanya bukan pelatih dadakan. Kerangka tim telah mereka bangun secara intensif sejak Kejurda tahun sebelumnya, sehingga chemistry, rotasi, dan pembagian peran di antara para pemain terbentuk secara alami dan tanpa pemaksaan.
Analisis dari Perbasi Kuningan menunjukkan bahwa keberhasilan ini adalah bukti nyata dua hal penting. Pertama, adanya kontinuitas pembinaan basket 3×3 yang sistematis di Kuningan. Kedua, tradisi lolos yang tercipta bukanlah hasil kebetulan atau ledakan sesaat. Format 3×3 yang menuntut kecepatan, kekerasan, dan eksekusi instan, hanya dapat dikuasai oleh tim yang memiliki fondasi dan napas pembinaan jangka panjang.
Kini, meskipun euforia telah terasa, beban yang diemban tim justru semakin besar. Kuningan tidak ingin hanya dicatat sebagai tim yang sekedar datang, bertanding, dan pulang. Mereka ingin memastikan bahwa Porprov Jawa Barat mendatang benar-benar menjadi panggung pembuktian bagi potensi dan kerja keras mereka selama ini. Target medali telah ditetapkan, dan persiapan menuju babak Porprov akan segera dimulai. (ali)
