Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Icu

Kadisdikbud Klaim Sekolah di Kuningan Terapkan Pengelolaan Sampah Edukatif

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Carlan, saat dijumpai di kantornya, Jumat (10/4/2026).

KUNINGAN – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Dr. Carlan, menyebut bahwa sekolah telah menerapkan pengelolaan sampah berbasis edukasi sebagai bagian dari budaya di lingkungan pendidikan.

Hal itu disampaikan ketika diminta tanggapan atas usulan Kepala Desa Kertayasa, Arief Amarudin, bahwa sekolah harus mengadakan mulok tata kelola sampah. Usulan tersebut disampaikan karena jumlah sampah di Kabupaten Kuningan sudah sangat menghawatirkan, dan tempat pembuangan sampah akhir semakin sempit bahkan overload.

‎Menurut Elon, mulai dari jenjang PAUD hingga SMP, praktik pengelolaan sampah telah diterapkan secara sistematis. Sejumlah sekolah bahkan menjadi percontohan, di antaranya SMP Negeri 1 Cilimus, SMP Negeri 1 Jalaksana, SMP Negeri 2 Jalaksana, SMP Negeri 1 Kadugede, hingga SMP Negeri 4 Kuningan. Di tingkat dasar dan PAUD, hal serupa juga dilakukan oleh SDN 2 Bayuning, SDN 1 Kadugede, serta TKN Unggulan dan TKN Cilowa.

‎Menurutnya, pengelolaan sampah sekolah dimulai dari pemilahan sejak sumbernya. Sampah organik, kata dia, diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dimanfaatkan kembali melalui daur ulang kerajinan, salah satunya yaitu pembuatan ecobrick.

‎”Pengelolaan sampah di sekolah itu dimulai dari pemilahan. Organik, anorganik, hingga B3. Namun untuk B3 relatif jarang ditemukan di lingkungan sekolah,” ujarnya, Jum’at, (10/4/2026).

‎Tak hanya itu, Ia menerangkan bahwa pihak sekolah juga bekerja sama dengan pengepul untuk mengelola sampah bernilai ekonomis. Hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan lingkungan sekolah, sekaligus menanamkan nilai ekonomi sirkular kepada para siswa.

‎Upaya itu semakin diperkuat melalui integrasi berbagai program lingkungan, seperti Adiwiyata dan program lokal yaitu Naksata Wanawiyata. Elon menerangkan, program tersebut mendorong sekolah untuk berkompetisi secara sehat dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.

‎Hasilnya, lanjut dia, puluhan sekolah di Kabupaten Kuningan telah menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Adiwiyata, baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. SMPN 1 Jalaksana dan SMPN 1 Kramatmulya menjadi di antara sekolah yang berhasil menembus level tersebut

‎Selain fokus pada lingkungan, Disdiskbud juga mengintegrasikan program sekolah sehat dan sekolah ramah anak. Ia berharap, sinergi tersebut mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya bersih, tetapi juga aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal.

‎Meski berbagai program telah berjalan, pihaknya menegaskan bahwa tantangan utama saat ini yaitu menjaga konsistensi implementasi di lapangan.

‎”Programnya sudah ada, tinggal bagaimana kita semua konsisten menjalankannya. Edukasi menjadi hal utama agar kesadaran itu tumbuh dari dalam,” tutupnya.

Baca Juga :  NGOPI Talkshow, “Membuka Tabir Proses Rekrutmen dari Perspektif Praktisi HR"