Tak hanya itu, Uniku mulai memperkenalkan IKU Partisipatif. Poin ini menakar sejauh mana kontribusi alumni baik melalui donasi, mentoring, hingga kolaborasi riset dalam membangun ekosistem kampus yang berkelanjutan. “IKU adalah satu kesatuan strategis yang saling melengkapi,” tambahnya.
Dalam sesi arahan teknis, Anna memberikan instruksi spesifik kepada setiap unit kerja. Dekan dan Direktur diminta menjadi “lokomotif perubahan” yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) diinstruksikan untuk menumbuhkan budaya riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menumpuk laporan di rak perpustakaan.
Sementara itu, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dan unit administrasi diminta memastikan tata kelola berjalan transparan dan gesit. Anna menekankan bahwa hambatan terbesar seringkali datang dari internal, yakni ego sektoral. “Tidak ada lagi ego unit. Yang ada hanyalah satu tekad: kemajuan Universitas Kuningan,” pintanya.
Menutup arahannya, Anna menyadari bahwa jalan menuju akreditasi Unggul akan dipenuhi kerikil tajam. Namun, dengan kepemimpinan yang kuat dan rencana yang lebih tajam, ia optimistis target tersebut bukan sekadar fatamorgana. “Universitas Kuningan Unggul bukan mimpi, tapi tujuan yang akan kita wujudkan bersama,” pungkasnya. (Ali)
